Smart Fertility Clinic menyediakan program IVF atau bayi tabung yang aman dengan prosedur yang lengkap dan terorganisasi. Klinik ini mengandalkan teknologi terbaru untuk memperlancar program. Bagi Anda yang ingin melakukan IVF yang lancar dengan biaya terjangkau, klinik ini bisa menjadi pilihan tepat. Prosedur Pengambilan Sperma di Smart Fertility Clinic Evasari Secara umum, ada beberapa prosedur yang dilakukan oleh klinik ini dalam mengambil sperma. Menurut informasi dari tenaga medis di klinik ini, berikut akan dijelaskan beberapa metode pengambilan sperma yang diterapkan: Percutaneous Epididymal Sperm Aspiration Metode PESA ini mengambil sperma melalui saluran atas testis yaitu epididimis, di mana sperma matang. PESA tidak melakukan bedah besar tetapi memakai jarum halus dan diperuntukkan bagi pria yang bermasalah pada saluran sperma mereka. Baca juga: Rekomendasi Bayi Tabung di Jakarta yang Murah Testicular Sperm Aspiration Metode ini memakai jarum suntik yang mengambil sperma melalui jaringan testis. TESA dijadikan opsi kalau sperma tidak ada dalam epididimis. PESA dilakukan terlebih dahulu, jika hasilnya nihil, baru dilakukan metode ini. Microsurgical Epididymal Sperm Aspiration Metode bayi tabung ini adalah operasi mikro yang memakai mikroskop bedah untuk mengambil banyak sperma berkualitas. Mirip dengan PESA yang mengambil dari epididimis, tapi MESA ini lebih untuk pengambilan jumlah banyak. MESA biasanya dipakai untuk tindakan lanjutan IVF, pembekuan dan tujuan medis lainnya. Frequently Asked Questions Apa yang dimaksud smart fertility? Inilah klinik yang fokus pada fertilitas dengan layanan lengkap termasuk IVF, skrining, inseminasi, program hamil dan sebagainya. Berapa lama program IVF? Siklus lengkap IVF bisa sampai 4-6 minggu, ini termasuk dari awal stimulasi ovarium ke tes hamil pasien. Berapa kisaran biaya IVF? Rata-rata total biaya per siklus untuk menjalani program IVF mulai 40-200 juta tergantung teknologi, perawatan tambahan dan kondisi pasien. Apa syarat IVF? Di Indonesia, program bayi tabung hanya bisa untuk pasangan yang sudah sah dan istri berusia kurang dari 42 tahun. Pasien harus siap secara keseluruhan baik itu soal finansial, mental maupun kondisi tubuh. Oleh: dr. Andrew Wijaya, Sp.OG